BANGKALAN, PojokUpdate.com – Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) Tahun 2026 resmi ditutup dengan penuh khidmat di Bangkalan, Madura.
Penutupan agenda strategis organisasi Islam terbesar di Indonesia itu semakin istimewa dengan kehadiran Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang memberikan amanat langsung di hadapan para ulama dan pengurus NU dari berbagai daerah.
Ketua Panitia Munas-Konbes NU 2026 yang juga Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf, menyampaikan rasa syukur atas suksesnya pelaksanaan kegiatan yang berlangsung di Kabupaten Bangkalan.
“Alhamdulillah prosesi penutupan Munas dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama tahun 2026 telah berjalan dengan baik. Presiden hadir, para ulama berkumpul, pengurus PBNU dan PCNU se-Jawa Timur juga hadir semua,” ujarnya.
Menurut pria yang akrab disapa Gus Ipul itu, keberhasilan penyelenggaraan Munas dan Konbes tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk keluarga besar Pondok Pesantren Al Falah Ploso serta dzuriyah ulama kharismatik Madura, Syaichona Mohammad Cholil.
“Kami berterima kasih sungguh-sungguh kepada semua pihak. Mudah-mudahan ini menjadi keberkahan bagi kita semua,” katanya.
Kehadiran Presiden Dinilai Punya Makna Strategis
Sementara itu, Sekretaris Steering Committee Munas-Konbes NU, Prof. Nuh, menilai kehadiran Presiden Prabowo pada penutupan Munas dan Konbes memiliki makna yang sangat penting bagi perjalanan organisasi.
Menurutnya, kehadiran kepala negara menunjukkan hubungan dan kerja sama yang erat antara NU dan pemerintah.
“Kehadiran Presiden membawa makna khusus. Kerja sama antara NU dan pemerintah sungguh sangat luar biasa,” ujarnya.
Selain itu, Presiden juga disebut memberikan apresiasi terhadap substansi pembahasan yang dihasilkan selama Munas dan Konbes berlangsung.
Prof. Nuh menegaskan bahwa hasil-hasil yang dibahas dalam forum tersebut bukanlah titik akhir, melainkan akan menjadi bahan utama menuju Muktamar NU yang dijadwalkan berlangsung pada 1–5 Agustus 2026.
“Yang paling mahal dari Munas dan Konbes ini bukan hasil akhirnya, tetapi proses menuju muktamar. Semua bahan yang telah dibahas akan dirapikan, dielaborasi, dan diperkaya lagi dengan berbagai pandangan para pakar sebelum muktamar dilaksanakan,” jelasnya.
Lima Daerah Kandidat Tuan Rumah Muktamar
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Nuh juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini terdapat lima kandidat lokasi penyelenggaraan Muktamar NU mendatang, yakni Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sumatera Barat, dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
PBNU, kata dia, akan membentuk tim teknis untuk melakukan survei kelayakan di masing-masing daerah.
Penilaian tidak hanya mencakup aspek infrastruktur, tetapi juga keamanan, kesiapan finansial, hingga nilai spiritual yang menjadi tradisi khas dalam penentuan lokasi kegiatan besar NU.
“Yang paling penting adalah layak. Layak secara infrastruktur, keamanan, finansial, dan juga layak secara spiritual,” tegasnya.
Terkait peluang Bangkalan menjadi tuan rumah Muktamar, Prof. Nur menyebut hingga saat ini daerah tersebut belum masuk dalam usulan resmi. Namun demikian, PBNU tetap membuka ruang kajian terhadap semua kemungkinan.
“Kita terbuka. Tidak ada penolakan tanpa dasar. Semua akan dikaji secara objektif,” katanya.
PBNU Kebut Persiapan dan Penyelesaian SK Cabang
Menjelang pelaksanaan muktamar, PBNU juga terus menyiapkan berbagai kebutuhan teknis, termasuk memastikan seluruh pengurus cabang dan wilayah yang memenuhi syarat mendapatkan Surat Keputusan (SK).
Saifullah Yusuf menyebut dalam beberapa bulan terakhir PBNU telah menerbitkan lebih dari 130 SK kepengurusan.
“Sekarang tinggal beberapa lagi, tidak banyak. Insyaallah akan segera tuntas,” ujarnya.
Ia memastikan proses penerbitan SK dilakukan secara terbuka dan melalui pembahasan bersama tim panel untuk memitigasi berbagai syarat yang masih belum terpenuhi.
Selain persoalan administrasi, PBNU juga tengah mematangkan materi-materi hasil Munas dan Konbes yang nantinya akan menjadi bagian penting dalam pembahasan Muktamar NU 2026.
Perbedaan Pendapat di NU Dinilai Hal Biasa
Menanggapi isu adanya perbedaan pandangan di internal organisasi, Gus Ipul menegaskan bahwa dinamika tersebut merupakan hal yang lumrah dalam tubuh NU dan bukan bentuk perpecahan.
“Tidak ada perpecahan di NU. Yang ada adalah perbedaan pendapat, dan itu biasa. Setelah didiskusikan, semuanya selesai dengan baik,” tegasnya.
Ia pun mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk terus memberikan dukungan dan doa agar seluruh tahapan menuju Muktamar NU 2026 berjalan lancar.
“Munas dan Konbes ini adalah tahap pertama menuju muktamar. Kami mohon doa restu dari seluruh warga NU agar tahapan berikutnya juga berjalan sukses,” pungkasnya.(Abd Latif)










